Monday, April 7, 2014

Lampion

Ia menerbangkan banyak lampion kecil, agar menghias langit, berkamuflase sebagai anak-anak bara dari langit yang mengkremasi awan.
Dan di setiap lampion yang mabuk udara, ada harapan yang ikut diterbangkan. Pula memori yang ingin dilupakan, kenangan yang kadaluarsa untuk diputar dalam teater ingatan.

“Tidak ada lagi ruang yang cukup untuk menyimpan pilu yang sudah jompo. Juga dendam yang mengontrak terlalu lama di bilik dada, sudah saatnya jatuh tempo.”

Ia menerbangkan banyak lampion kecil, agar menghias langit, berkamuflase sebagai anak-anak bara dari langit yang mengkremasi awan.
Dan di setiap lampion yang mabuk udara, ada dendam yang ikut diterbangkan. Pula hasrat yang ingin dilupakan, nafsu yang kadaluarsa untuk seseorang di luar genggaman.

“Bukankah bilik dada memang semulanya diciptakan kopong?”

Samarinda, April 7th 2014 [Surga Ikan]

Saturday, February 15, 2014

Di Sini

Ia sibuk memperhatikan sosok yang duduk di depannya dengan acuh. Tidak menoleh sedikitpun, bahkan dengan suara-suara kendaraan dan lagu yang sedari tadi riuh.

Jadi, bagaimana dengan kita? Kata tanya yang hanya bisa tertahan di ujung lidah mulai buatnya gila. Harusnya sosok itu sadar bahwa ia, yang memperhatikan, sedang menunggu tanggapan dengan suka rela.

Kau cinta atau tidak? Masih tertahan di kerongkongan. Tanyanya hanya akan terlontar jika ia berhadapan dengan kaca. Padahal harusnya tanpa ia berbicara, wajahnya sudah dapat dibaca.

Hai, aku di sini mulai mengharapkanmu. Cukup dalam hati. Tidak perlu diutarakan sekarang, mungkin nanti. Saat waktu yang tepat, pasti.

Jadi bagaimana? Sudah menemukan sosok yang kau cari?”

Kali ini suaranya lantang. Membuka obrolan, daripada hanya diam dan menikmati kedekatan yang rasanya terpisah bentang.

“Belum. Masih mencari, tapi pasti nanti bertemu jika waktunya sudah tepat.”

Bagaimana bisa kau tidak pernah tahu bahwa seorang yang bisa saja tepat sudah berada di depanmu? Aku di sini.


BGM: Rihanna - Stay

Sunday, February 2, 2014

Selamat Ulang Tahun

“Selamat ulang tahun.”

Ia mengutak-atik aplikasi pesan singkat, berkali-kali menulis kemudian menghapus kembali sebuah kalimat yang terangkai hanya dari tiga kata. Sesak, logikanya sedari tadi asik menari bersama benak, mengajak hati untuk berdusta; Kau sudah tidak lagi cinta.

Harusnya tidak usah lagi berpikir tentang mengucapkan hal yang pasti diucapkan semua orang kepadanya setiap setahun sekali. Toh, dia juga tidak perduli.

“Semoga panjang umur.”

Ah, hapus lagi, tidak perlu mendo’akan semoga panjang umur. Ia tahu pasti bahwa dia tidak menginginkan hidup di usia uzur.

Hanya saja ia pernah, pula masih menginginkan untuk hidup bersamanya sampai usia mulai mengatup. Sampai usia mulai memutuskan bahwa ini saatnya hidup mereka ditutup.

“Jadilah lebih baik.”

Sebuah kalimat yang biasa diucapkan, memang. Namun kali ini ia mengucapkannya dengan bersungguh-sungguh, berharap dia bisa menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri meski tidak gampang.

Karena menjadi sesosok manusia yang sempurna utuhnya secara harafiah, tidaklah mudah. Cukup berarti ungkapan. Cukup anggapan, sebuah ucapan penggambaran.

“Jaga diri baik-baik.”

Ia sadar diri, memutuskan untuk tidak lagi hadir, walaupun hadirnya tidak pernah sungguh-sungguh dinanti. Memutuskan untuk angkat kaki, karena memang sepantasnya dua insan meninggalkan satu sama lain sebelum benar-benar saling menyakiti.

“Aku cinta. Kamu.”

Ia mencoba menghapus kalimat terakhir sebelum jemarinya refleks menekan tombol yang salah. Terkirim sudah sebuah kalimat janggal dari orang yang ujarnya tidak lagi cinta. Dari orang yang katanya lelah, namun tidak tahu malu mengucapkan rasa seakan hubungannya masih sebuah ‘Kita’.


Maaf.

Monday, January 6, 2014

Sempurna

“Suatu saat, aku akan menerbitkan sebuah buku. Tentang bagaimana aku menemukan sebuah cinta yang sederhana, namun sempurna.”

Ia berandai dalam hati. Duduk di pojok ruangan sebuah kafe pinggiran kota dengan secangkir kopi panas yang menunggu untuk diseruput sedaritadi.

Ia membayangkan betapa dirinya akan menemukan sebuah cinta yang sederhana, namun sempurna. Tentang bagaimana ia tumbuh semakin tua dan renta, di pelukan seorang yang masih ia cinta. Sebuah cinta yang tidak ikut termakan waktu, namun tetap sama, seperti awal bertemu, menjalani, hingga akhirnya sebuah cincin tanda jadi melingkar di jari manisnya, yang akan tetap ada hingga ia mulai mengeriput dan menua.

Di benaknya, ia memotret sebuah foto perjalanan hidup sepasang manusia. Dirinya, dan seorang pria yang jadi satu-satunya.

“Mungkin belum sekarang, tapi nanti. Suatu saat, jari rentaku akan mengetik dengan susah payah, menceritakan tentang bagaimana sebuah cinta bisa tetap ada dan setia dari awal hingga mati.”

Matanya berbinar, memandang asap rokok dan uap panas dari cangkir kopi yang seakan berdansa mengiringi musik tango yang sudah diputar dari awal ia duduk di meja paling belakang, dengan sorotan cahaya senja yang semakin mengoranye. Lucu memikirkan dua jenis asap yang berbeda, dapat menyatu dan bersimfoni lembut dengan alunan lagu yang klise.

Lalu otaknya secara gamblang menyiratkan sebuah pasangan bahagia yang sedang tertawa dan bercanda sembari memandang kerumunan dari pinggir aula tempat pernikahan. Menebar senyum pada setiap orang yang datang dan ikut merayakan penyatuan dua insan.

“Pasti.”

Kembali ia memikirkan tentang sebuah cinta yang disempurnakan oleh ketidak-sempurnaan dua orang manusia.

Dalam hatinya, sebuah cinta tidaklah harus mewah. Cukup sederhana, dengan kekurangan dan kelebihan masingnya yang diterima dengan ikhlas, tanpa harus merubah sikap dan pribadi serta tetek bengek lainnya, yang justru akan menjadikannya sempurna.

Sebuah cinta, tidak harus memberi atau memiliki benda berharga. Karena dapat memiliki satu sama lain, saling mencintai dan menerima yang orang lain tidak dapat cinta dan terima, sudah menjadi hal paling berharga yang bisa dimiliki setiap manusia.

“Selamat hari perayaan yang ke-17, sayang.”

Pipinya memerah, saat pandangnya menangkap sesosok manusia dengan kursi roda yang memangku sebuah kue hari jadi datang menghampiri. Seorang pria yang selalu ia cintai.

Seorang yang tidak pernah pergi, dan menerima serta mencintai setiap hal yang diberi oleh Tuhan kepadanya.

“Hari ini ada anak-anak yang datang dan mengejek lagi. Kata mereka aku seperti bajak laut yang ada di film luar negeri, hanya memiliki satu kaki.”

Wednesday, December 4, 2013

Kamu.

“Jadi, bagaimana?” Kata-kata itu yang terus kudengar darimu selama lima belas menit belakangan ini. Saat kau tidak puas dengan jawaban yang kuberi, lantas kau menghentakkan kaki atau cemberut sembari mengelus perutmu yang semakin membuncit. Seperti memancing belas kasih dariku yang dari tadi bingung.

Belas kasih apa yang kau pancing? Pintu hati tidak untuk diberi umpan, melainkan harus diketuk perlahan.

“Aku bingung.”

“Kamu gak bingung. Kamu labil, tau? Apa susahnya menjawab pertanyaan? Toh aku sudah memberi pilihan. Iya, atau tidak.”

“Ini bukan ujian sekolah. Mentang-mentang kamu masih sekolah, jadi bisa seenaknya memberi pilihan ganda?”

Bukan mengulur waktu, tapi ini tentang hidup dan mati anak yang di kandungmu. Anak kita, masa depannya.

Memang salah, kau harus mengandung dan berparuh-waktu menjadi murid sekolah tinggi. Tapi yang kupikirkan sekarang ini bukan cuma tentang kau, anak kita dan sekolahmu. Melainkan hidup kita, nantinya, jika pada akhirnya aku memutuskan untuk menikahimu dan menjadikanmu separuh tulang rusukku.

“Aku takut, bingung. Aku gak punya banyak waktu untuk jawaban dari kamu yang selalu iya, nanti, mungkin, bisa jadi.”

“Aku tau. Kamu siap jadi istri?”

Lalu kau diam, melirik ke arah lain dan mengernyitkan dahi. Tatapanmu tajam, seketika kosong, disusul semburat merah di pipi dan ujung hidungmu, kemudian air mata.

Wajah itu, tanda ketidakmampuanmu.

“Aku siap.”

Sayang, aku tahu kau bohong lagi. Tidak ada yang siap menikah secara tiba-tiba. Begitu juga aku, yang hanya tahu bagaimana caranya membahagiakanmu sebagai kekasih sementara, bukan sebagai suami. Belum.


“Meskipun pada akhirnya nanti aku belum tentu bisa membahagiakanmu secara materi?”

“Aku bisa bantu kamu, itulah kenapa aku sekolah. Iya, kan? Supaya aku bisa dapat kerja yang layak, supaya aku gak jadi beban untuk kamu nantinya. Kita kerja sama, bangun pelan-pelan.”

Kali ini kau kembali dengan kata-kata pamungkasmu. Bujuk rayu dalam kalimat bijak yang harusnya gadis seumurmu tidak dapat rangkai dengan mudah.

“Iya, mungkin kita bisa.”

Aku takut salah kata. Aku takut kau mengartikannya ambigu.

Aku masih takut menikah, belum siap. Tapi sekali lagi sosokmu kadang buatku luluh, ingin mengatakan apa yang seharusnya tidak aku katakan. Buatku lupa batas yang bisa kulakukan. Buatku lupa bahwa aku di ambang.

Karena kau selalu datang dengan keyakinan baru untukku, dengan rasa percaya bahwa aku bisa sepenuhnya menjadi lebih baik untukmu.

“Jadi, bagaimana?” Masih, kau menanyakan hal yang sama setelah tiga puluh menit pertemuan. Masih menghentakkan kaki, meski kali ini hentakkan kakimu adalah tanda tidak sabar menunggu hasil dari tanya yang tertahan lima bulan, seumur janinmu.

“Aku masih boleh berpikir, kan?”