Sunday, October 19, 2014

Ulang Tahun

Selamat ulang tahun.

Ia berucap hangat sembari menyalakan sembilan belas lilin merah jambu kecil yang dihias di atas kue cokelat seharga lima puluh ribu. Kemudian memutar sebuah Ballad, menciptakan suasana tenang di hari kemenangan saat seorang manusia masih bisa merasakan usianya bertambah satu.

“Tiup lilinnya, tiup lilinnya.”

Perlahan ia menepuk-nepuk kedua tangannya, sengaja membuat ketukan yang berbenturan dengan melodi dari pengeras suara di tengah ruangan. Karena lilin ulang tahun harus dipadamkan bersama kehebohan dan angan.

Lalu terdengar sorakan kecil saat lilin-lilin merah jambu yang mulai menetes di atas kue ulang tahun, sudah padam oleh dua tiupan panjang. Hore.

“Sekarang potong kuenya.”

Ia memindahkan lilin hias ke samping kotak kue dan meraih sebuah pisau untuk mulai memotong adil. Membagi kue berbentuk lingkaran itu menjadi delapan potongan segitiga sama besar, kemudian mengambil satu dan memisahkannya di atas piring kecil.

“Berikan potongan pertamanya untuk orang yang spesial.”

Tidak butuh waktu lama untuknya menyimpulkan siapa yang paling spesial. Dengan senyum, ia mengambil piring yang bertahtakan kue ulang tahun dan menaruhnya di seberang tempat duduk. Tahu persis siapa yang selama ini berperan penting dalam hidupnya, yang membuatnya tunduk.

“Suapi.”

Ia mengambil sesendok kecil kue dan mulai menyuapi. Berbinar matanya saat sadar ini hanya bisa dirasakan setiap satu tahun sekali. Sebuah perayaan tentang bertambahnya umur seorang manusia yang tidak pernah tahu kapan hidupnya berakhir.

“Terima kasih.”

Ia memandangi figur di depannya dengan ramah. Memandang refleksi seorang wanita dengan topi kerucut warna-warni dan gaun merah yang sedang mengunyah.

Persis dengan apa yang ia kenakan lima belas menit belakangan ini.

“Selamat ulang tahun.”


-Ia memindahkan cermin yang bersandar di seberang tempat duduknya selama ini. Menyisakan ruang kosong dengan ornamen ulang tahun dan sosoknya, seorang diri.

Tahun depan lagi.-

Monday, April 7, 2014

Lampion

Ia menerbangkan banyak lampion kecil, agar menghias langit, berkamuflase sebagai anak-anak bara dari langit yang mengkremasi awan.
Dan di setiap lampion yang mabuk udara, ada harapan yang ikut diterbangkan. Pula memori yang ingin dilupakan, kenangan yang kadaluarsa untuk diputar dalam teater ingatan.

“Tidak ada lagi ruang yang cukup untuk menyimpan pilu yang sudah jompo. Juga dendam yang mengontrak terlalu lama di bilik dada, sudah saatnya jatuh tempo.”

Ia menerbangkan banyak lampion kecil, agar menghias langit, berkamuflase sebagai anak-anak bara dari langit yang mengkremasi awan.
Dan di setiap lampion yang mabuk udara, ada dendam yang ikut diterbangkan. Pula hasrat yang ingin dilupakan, nafsu yang kadaluarsa untuk seseorang di luar genggaman.

“Bukankah bilik dada memang semulanya diciptakan kopong?”

Samarinda, April 7th 2014 [Surga Ikan]

Saturday, February 15, 2014

Di Sini

Ia sibuk memperhatikan sosok yang duduk di depannya dengan acuh. Tidak menoleh sedikitpun, bahkan dengan suara-suara kendaraan dan lagu yang sedari tadi riuh.

Jadi, bagaimana dengan kita? Kata tanya yang hanya bisa tertahan di ujung lidah mulai buatnya gila. Harusnya sosok itu sadar bahwa ia, yang memperhatikan, sedang menunggu tanggapan dengan suka rela.

Kau cinta atau tidak? Masih tertahan di kerongkongan. Tanyanya hanya akan terlontar jika ia berhadapan dengan kaca. Padahal harusnya tanpa ia berbicara, wajahnya sudah dapat dibaca.

Hai, aku di sini mulai mengharapkanmu. Cukup dalam hati. Tidak perlu diutarakan sekarang, mungkin nanti. Saat waktu yang tepat, pasti.

Jadi bagaimana? Sudah menemukan sosok yang kau cari?”

Kali ini suaranya lantang. Membuka obrolan, daripada hanya diam dan menikmati kedekatan yang rasanya terpisah bentang.

“Belum. Masih mencari, tapi pasti nanti bertemu jika waktunya sudah tepat.”

Bagaimana bisa kau tidak pernah tahu bahwa seorang yang bisa saja tepat sudah berada di depanmu? Aku di sini.


BGM: Rihanna - Stay

Sunday, February 2, 2014

Selamat Ulang Tahun

“Selamat ulang tahun.”

Ia mengutak-atik aplikasi pesan singkat, berkali-kali menulis kemudian menghapus kembali sebuah kalimat yang terangkai hanya dari tiga kata. Sesak, logikanya sedari tadi asik menari bersama benak, mengajak hati untuk berdusta; Kau sudah tidak lagi cinta.

Harusnya tidak usah lagi berpikir tentang mengucapkan hal yang pasti diucapkan semua orang kepadanya setiap setahun sekali. Toh, dia juga tidak perduli.

“Semoga panjang umur.”

Ah, hapus lagi, tidak perlu mendo’akan semoga panjang umur. Ia tahu pasti bahwa dia tidak menginginkan hidup di usia uzur.

Hanya saja ia pernah, pula masih menginginkan untuk hidup bersamanya sampai usia mulai mengatup. Sampai usia mulai memutuskan bahwa ini saatnya hidup mereka ditutup.

“Jadilah lebih baik.”

Sebuah kalimat yang biasa diucapkan, memang. Namun kali ini ia mengucapkannya dengan bersungguh-sungguh, berharap dia bisa menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri meski tidak gampang.

Karena menjadi sesosok manusia yang sempurna utuhnya secara harafiah, tidaklah mudah. Cukup berarti ungkapan. Cukup anggapan, sebuah ucapan penggambaran.

“Jaga diri baik-baik.”

Ia sadar diri, memutuskan untuk tidak lagi hadir, walaupun hadirnya tidak pernah sungguh-sungguh dinanti. Memutuskan untuk angkat kaki, karena memang sepantasnya dua insan meninggalkan satu sama lain sebelum benar-benar saling menyakiti.

“Aku cinta. Kamu.”

Ia mencoba menghapus kalimat terakhir sebelum jemarinya refleks menekan tombol yang salah. Terkirim sudah sebuah kalimat janggal dari orang yang ujarnya tidak lagi cinta. Dari orang yang katanya lelah, namun tidak tahu malu mengucapkan rasa seakan hubungannya masih sebuah ‘Kita’.


Maaf.

Monday, January 6, 2014

Sempurna

“Suatu saat, aku akan menerbitkan sebuah buku. Tentang bagaimana aku menemukan sebuah cinta yang sederhana, namun sempurna.”

Ia berandai dalam hati. Duduk di pojok ruangan sebuah kafe pinggiran kota dengan secangkir kopi panas yang menunggu untuk diseruput sedaritadi.

Ia membayangkan betapa dirinya akan menemukan sebuah cinta yang sederhana, namun sempurna. Tentang bagaimana ia tumbuh semakin tua dan renta, di pelukan seorang yang masih ia cinta. Sebuah cinta yang tidak ikut termakan waktu, namun tetap sama, seperti awal bertemu, menjalani, hingga akhirnya sebuah cincin tanda jadi melingkar di jari manisnya, yang akan tetap ada hingga ia mulai mengeriput dan menua.

Di benaknya, ia memotret sebuah foto perjalanan hidup sepasang manusia. Dirinya, dan seorang pria yang jadi satu-satunya.

“Mungkin belum sekarang, tapi nanti. Suatu saat, jari rentaku akan mengetik dengan susah payah, menceritakan tentang bagaimana sebuah cinta bisa tetap ada dan setia dari awal hingga mati.”

Matanya berbinar, memandang asap rokok dan uap panas dari cangkir kopi yang seakan berdansa mengiringi musik tango yang sudah diputar dari awal ia duduk di meja paling belakang, dengan sorotan cahaya senja yang semakin mengoranye. Lucu memikirkan dua jenis asap yang berbeda, dapat menyatu dan bersimfoni lembut dengan alunan lagu yang klise.

Lalu otaknya secara gamblang menyiratkan sebuah pasangan bahagia yang sedang tertawa dan bercanda sembari memandang kerumunan dari pinggir aula tempat pernikahan. Menebar senyum pada setiap orang yang datang dan ikut merayakan penyatuan dua insan.

“Pasti.”

Kembali ia memikirkan tentang sebuah cinta yang disempurnakan oleh ketidak-sempurnaan dua orang manusia.

Dalam hatinya, sebuah cinta tidaklah harus mewah. Cukup sederhana, dengan kekurangan dan kelebihan masingnya yang diterima dengan ikhlas, tanpa harus merubah sikap dan pribadi serta tetek bengek lainnya, yang justru akan menjadikannya sempurna.

Sebuah cinta, tidak harus memberi atau memiliki benda berharga. Karena dapat memiliki satu sama lain, saling mencintai dan menerima yang orang lain tidak dapat cinta dan terima, sudah menjadi hal paling berharga yang bisa dimiliki setiap manusia.

“Selamat hari perayaan yang ke-17, sayang.”

Pipinya memerah, saat pandangnya menangkap sesosok manusia dengan kursi roda yang memangku sebuah kue hari jadi datang menghampiri. Seorang pria yang selalu ia cintai.

Seorang yang tidak pernah pergi, dan menerima serta mencintai setiap hal yang diberi oleh Tuhan kepadanya.

“Hari ini ada anak-anak yang datang dan mengejek lagi. Kata mereka aku seperti bajak laut yang ada di film luar negeri, hanya memiliki satu kaki.”