Tuesday, April 28, 2015

Diam

Ia diam. Sebuah cincin perak dengan dua mata berlian buatnya bungkam.

Rasa cinta, tak harus diikat dengan janji suci yang akhirnya akan dia ingkari. Ia tidak ingin menyimpan dendam saat satu hari mengetahui bahwa ternyata dia sudah pergi ke sana ke mari.

“Jika pada satu hari akhirnya aku harus tunduk pada satu orang, maka itu adalah saatnya aku mengetahui bahwa ia tidak akan pergi dan mengingkari janji yang sebelumnya ia buat. Ia akan memenuhi semua kewajibannya, tanpa diam-diam membuatku percaya pada nubuat.”

Ia siap, jika harus memberikan dirinya hanya untuk satu orang. Ia siap, jika pada akhirnya harus menumpahkan keringat untuk membangun sebuah kehidupan dengan satu orang.

Tapi ia tidak siap, jika akhirnya harus diam menahan rasa sakit tanpa luka. Ia tidak siap, jika akhirnya harus menumpahkan air mata tanpa ada darah yang tumpah.

“Harusnya kau berkaca pada masa lalumu. Apakah kau sudah siap meninggalkan semua sifat yang biasa kau lakukan sebelumnya? Siapkah kau melupakan kebiasaanmu, yang biasa melupakan pasanganmu demi kesenanganmu sendiri?”

“Jangan bohong lagi.”

Monday, December 22, 2014

Buku dan Kamu

      Yearning, kb/ks. hasrat, kerinduan.
Di pusat hasrat ini adalah keyakinan bahwa segalanya
bisa sempurna. – David Levithan

Baru saja aku selesai membaca sebuah buku, saat akhirnya merasa ditelanjangi dengan cerita yang merujuk kisahmu. Mereka juga membuatku terkikik beberapa kali karena aku melihatnya sebagai kelakar, tentang kita. Terlebih tentang kau.

Buku ini, mengingatkanku betapa aku pernah melarangmu bernyanyi di sebuah cafe karena kau melafalkan huruf F dengan buruk. Juga beberapa kali mengingatkanku saat aku memaksa untuk mewarnai jari-jari lentikmu dengan kuteks merah muda dan hijau norak di sebuah warung nasi goreng ketika kita kelaparan.

                Caveat, kb. surat keberatan.
“Akulah yang akan meninggalkanmu”––bisikmu padaku sebagai peringatan. Kencan kelima? Kencan keenam?
Dalam hati aku yakin kau salah. Aku yakin akulah yang akan mematikan hubungan ini. Tapi aku menyimpan keyakinan itu dalam hati.  – David Levithan

Dan entah hal ini kau sadari atau tidak, yang terlucu adalah fakta di mana aku sama sekali tidak bisa melupakan sekecil apapun yang berkaitan denganmu.

Karena, hey, kau seperti satu-satunya jamuan yang tidak pernah bosan untuk kusantap. Bayangkan dirimu adalah sepiring tumis kangkung lezat yang menunggu untuk disandingkan dengan nasi­­––dan kali ini biarkan aku jadi nasinya.

Atau lupakan saja, lalu bayangkan aku berjingkat-jingkat dari ruang televisi ke dapur untuk memelukmu dari belakang secara tiba-tiba saat kau sedang khusyuk memasak. Saat kau sedang menyatukan jiwamu dengan panas kompor dan penggorengan juga bumbu dapur lainnya, untuk menyajikan hidangan yang pada akhirnya kusebut “enak seperti sosis”.

                Barfly, kb. orang yang menyukai minuman alkohol.
Kau sanggup bicara dengan siapa saja, dan itu kemampuan yang tidak kumiliki. – David Levithan

Kemudian suatu malam, kau pernah kembali dari sebuah pub dan menceritakan perjalanan heroikmu untuk mengantar pulang temanmu yang mabuk. Padahal kau sendiri juga kehilangan kesadaran dan beberapa kali memaki kecil karena katamu, antingmu hilang. Sebenarnya antingmu kutaruh di atas meja sesaat setelah kau melepasnya.

Lalu kau menjadi ringkih, menangis dan mencaci karena aku sudah menyakitimu, dan karena kau rindu ibumu. Aku minta maaf, karena aku hanya bisa mencoba menenangkanmu dengan cara yang biasa saja. Tanpa tahu bahwa aku harusnya memelukmu waktu itu, atau mengusap air matamu sebelum kau mengusapnya sendiri secara paksa––karena dalam ketidaksadaranmu, kau tetap saja ingin terlihat kuat.

Bahwa kau bisa saja menangis, tapi air matamu hanya boleh diusap dengan tanganmu sendiri.

                Gravity, kb. sikap yang serius.
Kubayangkan kau menyelamatkan hidupku. Kemudian aku bertanya-tanya apakah aku hanya mengkhayalkannya. – David Levithan

Maafkan aku karena menyelamatkanmu berkali-kali untuk pada akhirnya, menaruhmu di posisi yang berbahaya––lagi.

Sunday, October 19, 2014

Ulang Tahun

Selamat ulang tahun.

Ia berucap hangat sembari menyalakan sembilan belas lilin merah jambu kecil yang dihias di atas kue cokelat seharga lima puluh ribu. Kemudian memutar sebuah Ballad, menciptakan suasana tenang di hari kemenangan saat seorang manusia masih bisa merasakan usianya bertambah satu.

“Tiup lilinnya, tiup lilinnya.”

Perlahan ia menepuk-nepuk kedua tangannya, sengaja membuat ketukan yang berbenturan dengan melodi dari pengeras suara di tengah ruangan. Karena lilin ulang tahun harus dipadamkan bersama kehebohan dan angan.

Lalu terdengar sorakan kecil saat lilin-lilin merah jambu yang mulai menetes di atas kue ulang tahun, sudah padam oleh dua tiupan panjang. Hore.

“Sekarang potong kuenya.”

Ia memindahkan lilin hias ke samping kotak kue dan meraih sebuah pisau untuk mulai memotong adil. Membagi kue berbentuk lingkaran itu menjadi delapan potongan segitiga sama besar, kemudian mengambil satu dan memisahkannya di atas piring kecil.

“Berikan potongan pertamanya untuk orang yang spesial.”

Tidak butuh waktu lama untuknya menyimpulkan siapa yang paling spesial. Dengan senyum, ia mengambil piring yang bertahtakan kue ulang tahun dan menaruhnya di seberang tempat duduk. Tahu persis siapa yang selama ini berperan penting dalam hidupnya, yang membuatnya tunduk.

“Suapi.”

Ia mengambil sesendok kecil kue dan mulai menyuapi. Berbinar matanya saat sadar ini hanya bisa dirasakan setiap satu tahun sekali. Sebuah perayaan tentang bertambahnya umur seorang manusia yang tidak pernah tahu kapan hidupnya berakhir.

“Terima kasih.”

Ia memandangi figur di depannya dengan ramah. Memandang refleksi seorang wanita dengan topi kerucut warna-warni dan gaun merah yang sedang mengunyah.

Persis dengan apa yang ia kenakan lima belas menit belakangan ini.

“Selamat ulang tahun.”


-Ia memindahkan cermin yang bersandar di seberang tempat duduknya selama ini. Menyisakan ruang kosong dengan ornamen ulang tahun dan sosoknya, seorang diri.

Tahun depan lagi.-

Monday, April 7, 2014

Lampion

Ia menerbangkan banyak lampion kecil, agar menghias langit, berkamuflase sebagai anak-anak bara dari langit yang mengkremasi awan.
Dan di setiap lampion yang mabuk udara, ada harapan yang ikut diterbangkan. Pula memori yang ingin dilupakan, kenangan yang kadaluarsa untuk diputar dalam teater ingatan.

“Tidak ada lagi ruang yang cukup untuk menyimpan pilu yang sudah jompo. Juga dendam yang mengontrak terlalu lama di bilik dada, sudah saatnya jatuh tempo.”

Ia menerbangkan banyak lampion kecil, agar menghias langit, berkamuflase sebagai anak-anak bara dari langit yang mengkremasi awan.
Dan di setiap lampion yang mabuk udara, ada dendam yang ikut diterbangkan. Pula hasrat yang ingin dilupakan, nafsu yang kadaluarsa untuk seseorang di luar genggaman.

“Bukankah bilik dada memang semulanya diciptakan kopong?”

Samarinda, April 7th 2014 [Surga Ikan]

Saturday, February 15, 2014

Di Sini

Ia sibuk memperhatikan sosok yang duduk di depannya dengan acuh. Tidak menoleh sedikitpun, bahkan dengan suara-suara kendaraan dan lagu yang sedari tadi riuh.

Jadi, bagaimana dengan kita? Kata tanya yang hanya bisa tertahan di ujung lidah mulai buatnya gila. Harusnya sosok itu sadar bahwa ia, yang memperhatikan, sedang menunggu tanggapan dengan suka rela.

Kau cinta atau tidak? Masih tertahan di kerongkongan. Tanyanya hanya akan terlontar jika ia berhadapan dengan kaca. Padahal harusnya tanpa ia berbicara, wajahnya sudah dapat dibaca.

Hai, aku di sini mulai mengharapkanmu. Cukup dalam hati. Tidak perlu diutarakan sekarang, mungkin nanti. Saat waktu yang tepat, pasti.

Jadi bagaimana? Sudah menemukan sosok yang kau cari?”

Kali ini suaranya lantang. Membuka obrolan, daripada hanya diam dan menikmati kedekatan yang rasanya terpisah bentang.

“Belum. Masih mencari, tapi pasti nanti bertemu jika waktunya sudah tepat.”

Bagaimana bisa kau tidak pernah tahu bahwa seorang yang bisa saja tepat sudah berada di depanmu? Aku di sini.


BGM: Rihanna - Stay